Pemaketan Data (OS Linux)

Nah kalau tadi saya posting tentang Setting IP Adress pada Linux sekarang saya coba posting tentang Pemaketan Data pada Linux, langsung saja sebagai berikut ulasannya.

Langkah pertama, kita login ke Centos dengan username root. Kemudian kita buat file dengan perintah Cat atau editor Vi.
Contoh : vi belajar(dengan editor Vi), atau Cat >>belajar(dengan perintah Cat).
Setelah itu kita paketkan filenya dengan perintah tar –cf namapaket.tar namafile.
Contoh : tar –cf belajarlagi.tar belajar
Kemudian ekstensi file akan berubah menjadi belajarlagi.tar . Untuk mengekstak file tar kita gunakan perintah tar –xvf namapaket.tar.
Contoh: tar –xvf belajarlagi.tar
Jika ingin menambahkan file lain dalam folder yang akan dikirim. Misalnya pada folder linux.tar., maka perintahnya : tar –rf namapaket.tar namafile.
Contoh : tar –rf linux.tar latihan.tar

Untuk melihat isi file dari paket data tadi, kita gunakan perintah : tar –tvf namapaket.tar. Contoh : tar –tvf belajarlagi.tar
File tar tadi kemudian kita kompres dengan perintah gzip namafile.
Contoh: gzip belajarlagi.tar. Kemudian ekstensinya akan menjadi belajarlagi.tar.gz.
Kalo ingin mengekstrak file Gzip menggunakan perintah gunzip namafile.zip.
contoh : gunzip belajarlagi.tar.gz.

PENGIRIMAN DATA

File yang tadi sudah kita paketkan datanya dan dikompres, akan kita kirim ke komputer lain, misalnya computer user5. Dengan menggunakan perintah scp namafile IPtujuan/hostname:/direktori penyimpanan.
Contoh : scp belajarlagi.tar.gz 150.160.70.5:/home/tugas (/home/tugas maksudnya direktori pada user 5 dimana disimpan data yang dikirim)
Apabila data yang ingin kita kirim adalah suatu folder, maka perintahnya adalah : scp –r namafolder IPtujuan/hostname:/direktori penyimpanan.contoh : misalnya folder yang ingin kita kirim adalah linux, sebelumnya kita paketkan dulu foldernya dengan perintah tar dan gzip.(langkahnya sama seperti di atas) menjadi linux.tar.gz. Maka perintahnya seperti ini : scp –r linux.tar.gz 150.160.70.5:/home/tugas
Jika data yang ingin kita kirim lebih dari 2, maka perintahnya : scp namafile1 namafile2 namafile-n IPaddress/hostname:/direktori penyimpanan.

http://madaraahmad.blogdetik.com

Selengkapnya......

Setting IP Adress pada Linux Centos

Hey sahabat blog, wah sudah lama banget nih gak posting blog, sekarang mau coba posting lagi, ada tugas dari dosen, langsung aja yah disini temanya adalah tentang cara Setting IP Adress pada Linux Centos.

Langkah-langkahnya sebagai berikut;

1. Masuk ke device control dengan langkah sebagai berikut ; Aplication – System Tools Network Device Control

2. Maka akan tampil tampilan sebagai berikut, untuk selanjutnya kita akan menginput IP Address dengan melakukan klik Configure




3. Selanjutnya akan muncul tampilan dibawah ini, langkah selanjutnya adalah, mendouble klik yang terblok dengan warna biru di bawah ini.



4. Selanjutnya adalah jendela konfigurasi IP Address, inputlah IP Address yang kita inginkan pada jendela di bawah ini.



5. Jika sudah klik OK, selanjutnya kita akan mengganti host komputer dengan yang kita inginkan.



6. Selanjutnya untuk dapat melihat IP Address pada komputer kita dapat juga melalui tampilan GUI tetapi kita harus mengaktifkan network monitor pada menu taskbar dengan cara. Klik kanan pada taskbar lalu akan muncul add panel, lalu pilihlah network monitor, seperti pada gambar di bawah ini.



7. Setelah muncul monitor network kita akan melihat kecepatan transmisi pada komputer kita yang terhubung dengan LAN. Klik network monitor pada taskbar maka akan muncul gambar sebagai berikut



8. Maka telah selesai kita menginput IP. Sedangkan untuk melihat IP Address yang ada pada komputer kita adalah :



Sumber : http://helmz.wordpress.com

Selengkapnya......

Ramadhan Yang Indah

Marhaban Ya Ramadhan 1432 H

Bersyukur Alhamdulillah Ya Robb.. aku masih diberi nafas untuk menghirup bulan suci bulan ramadhan yang indah ini. Aku bahagia, meski aku belum bisa menjalaninya lagi ditengah-tengah keluargaku dan temen² di kampung tentunya ☺.

Saat-saat seperti ini, aku benar-benar kangen semuanya, aku ingin sekali menjalaninya bersama-sama lagi seperti waktu dulu ketika masih menjadi anak sekolah yang terkadang ingin sedikit dimanja, yang tiap kali mau sahur mesti dibangunin bahkan saking bandelnya simbok ngambililin santapan sahur ke kamar ☺. Ah itu yang membuat aku selalu kangen tiap kali datang ramadhan ini, ya itulah aku dulu saat masih bandel, sekarang kan udah nggak lagi he, segala sesuatunya harus diurus sendiri ☺.

Bulan ramadhan yang indah ini, untuk yang ke-5 kalinya aku jauh dari meraka semua. Aku harus tetap menjalaninya dengan penuh ikhlas, semoga ramadhan kali ini menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat menahan segala godaan, menjadi penuh berkah, mendapat ketenangan hati dan jiwa. Begitupun juga keluarga dirumah.. semoga mendapatkan berkah yang berlimpah.. Amin Ya Allah.

*Teruntuk;
Simbok, Bapak, Masku, Mbaku, Keponakan²ku, Temen² kampung

Tangerang, 31 Juli 2011

Selengkapnya......

Penjaga Malam

Malam yang muram. Kaca jendela di sebuah hotel tengah kota basah oleh embun lantaran gerimis bertahan sejak sore. Penjual bakmi tercenung di sudut kontrakannya. Hanya beberapa piring bakmi saja yang laku hari ini. Gerimis dan dingin menahan orang-orang keluar rumah menjenguk dagangannya.

Sementara itu, aku baru saja menjejak bumi. Sudah tiga hari ini aku tidak diijinkan oleh Tuan Langit untuk mengunjungi bumi. Menjalankan pekerjaan sampinganku: menjaga malam. Ya, aku adalah seorang penjaga malam. Menjaga malam di bumi yang katanya sering berselimut kabut warna kelam.

Pekerjaan utamaku sebenarnya adalah mengawasi perputaran mendung. Kapan ia akan menjadi hujan yang membasahi bumi, kapan ia harus berdiam di sela-sela awan. Sering aku tak tega jika Tuan Langit memerintahkanku mengguyurkan hujan yang begitu derasnya tanpa didahului dengan isyarat mendung. Aku lihat orang-orang sama kelabakan mendapati kehadiran hujan yang begitu tiba-tiba. Ada yang berlari-lari mencari tempat berteduh, ada yang bergegas membuka bagasi motor untuk mengambil jas hujan. Tapi biarlah begitu, aku hanya mengawasi perputaran mendung. Tuan Langit lah yang punya wewenang penuh untuk menjadikannya hujan atau tidak. Membuatnya tanpa isyarat mendung atau dengan mendung yang menggulung-gulung.
Saat ini aku harus konsentrasi dengan tugas menjaga malam di bumi. Oya, aku lupa memberi tahu pembaca sekalian, bahwa aku ini tak kasat mata. Jadi manusia-manusia di bumi tak bisa melihatku. Hanya orang-orang dengan tingkat kesaktian tertentu yang mungkin bisa melihatku. Biasanya mereka dari kalangan yang bersih hatinya, jauh dari angkara murka dan iri dengki. Pun begitu, selama bertugas menjaga malam di bumi aku belum pernah kepergok sekalipun oleh manusia.

Aku awali pengembaraan malam ini di sebuah café. Bangunan dua tingkat ini tidak terlalu besar. Di lantai dasar terdapat mini bookstrore dan meja kasir. Sedang di lantai dua selain meja bar yang memanjang di salah satu sudut, ada meja kayu artistik dengan ukiran, sofa, serta mini library. Selain menjual kudapan ringan, tempat ini memang menjual buku terbitan baru dan best seller. Di beberapa sudut café juga ditemui rak-rak buku dengan koleksi buku sastra, filsafat dan agama. Itu untuk dibaca di tempat, tidak dijual atau disewakan. Hanya ada segelintir buku teenlit disini. Yang jelas tidak bisa ditemui adalah majalah atau tabloid infotainment. Tampaknya café ini memposisikan dirinya sebagai tempat nongkrong pelajar dan mahasiswa yang hendak mengais ilmu. Tak sekadar tempat kongkow-kongkow menghabiskan malam.

Di lantai dua cafe, empat orang mahasiswa tampak sedang berdiskusi. Memperdebatkan keberadaan tuhan.

“Setiap yang ada pasti ada yang menciptakan. Kita ada di dunia buah dari hubungan ayah dan ibu kita. Lantas jika dibilang tuhan itu ada siapa yang menciptakan tuhan? Pasti ada makhluk yang lebih hebat, karena dia bisa menciptakan tuhan yang menciptakan manusia,” terang seorang mahasiswi berleher jenjang dengan rambut dikucir mirip buntut kuda. Parasnya akan mengingatkan kita dengan seorang penyayi perempuan di era tujuh puluhan.

“Tidak perlu kita simpan keraguan atas tuhan! Cukup kita percaya dan sudah. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak penting.” Sanggah mahasiswa berambut kribo.

“Iya seharusnya begitu. Tinggal percaya saja apa susahnya?” dukung mahasiswa dengan tatto kepala elang di lehernya.

Aku tersenyum simpul mendengar diskusi mereka. Sejenak aku tinggalkan keempat mahasiswa yang berdebat. Diskusi itu selanjutnya didominasi oleh mahasiswa berambut kribo dan mahasiswi berleher jenjang. Yang lain lebih banyak diam, merenung sembari menyimak lagu-lugu Efek Rumah Kaca yang diputar pihak café.

Selanjutnya aku masuk ruangan -sepertinya kantor- di bagian belakang café. Di ruangan dengan penerangan minimalis itu aku mendapati dua orang sedang bercakap serius. Pemilik café rupanya.

“Penjualan buku dua bulan ini kurang bagus. Bagaimana kalau kita sudahi saja penjualan buku? Rak-rak buku itu bisa kita ganti dengan meja kursi untuk pengunjung café. Itu pasti lebih menguntungkan,” keluh si lelaki.

“Berhenti jualan buku? Tidak, John. Aku tidak mau. Bukankah itu bagian dari idealismeku yang kita sepakati bersama. Café ini bukan sekedar tempat menghibur diri tapi mencedaskan juga,” si perempuan bersungut tidak setuju.

“Tapi fakta bicara lain, Alin. Buku-buku itu hanya nenenuhi café kita,” kali ini si lelaki coba meyakinkan si perempuan dengan mengatupkan kedua tangannya di pipi si perempuan. Didekatkan muka si lelaki pada muka si perempuan.

“Kita mesti bersabar, sayang.” Si perempuan tak mau kalah. Di dekatkan bibirnya dengan bibir si lelaki. Matanya mengerjap menggoda. Si lelaki menahan nafas. Bibir mereka sudah tak berjarak. Maka, terjadi lah apa yang diinginkan si perempuan dan si lelaki, di ruangan dengan penerangan yang minimalis itu.

Aku ketuk saja pintu ruangan. Mereka tergeragap. Buru-buru membetulkan letak pakaian. Ketika pintu dibuka si lelaki tak mendapati siapa-siapa. Berdiri bulu roma keduanya. Mereka semakin bergidik saat pintu sudah menganga terbuka ketukan masih terdengar.

Aku terkekeh-kekeh meninggalkan lelaki dan perempuan yang ketakutan itu. Kini aku telah sampai di parkiran café. Mahasiswi berleher jenjang yang tadi berdebat tentang tuhan telah bersiap di mobilnya. Tiba-tiba mahasiswa berambut kribo lawan berdebatnya menghampiri.
“Jalan pulangmu melawati kos-ku, bisakah aku menumpang mobil yang cantik ini?” Tanya mahasiswa berambut kribo. Ia lempar senyum termanisnya.

“E…Masuk lah!”

Mobil melaju membelah jalanan kota yang basah. Aku duduk di jok belakang mobil itu. Dua orang yang tadi sengit berdebat kini terlihat hangat menikmati lagu-lagu jazz yang diputar dalam mobil. Tanpa terasa kepalaku mengangguk-angguk mengikuti nada-nada syahdu yang menelusup ruang dengarku.

Sampai di kos. Tak disangka mahasiswa berambut kribo merayu mahasiswi berleher jenjang.

“Hujan makin deras. Tak baik mengemudi dalam cuaca seburuk ini. Mampirlah di kos-ku,” tawar mahasiswa berambut kribo dengan jantung berdegup kencang.

“Em..boleh deh.” Mahasiswi berleher jenjang menjawab dingin, sedingin udara malam itu.

Aku ikut masuk bersama dua orang terpelajar muda usia itu.

Entah siapa yang mengawali, busana yang melekat di badan berguguran sudah. Mereka sama memagut. Bukan aku yang meminta kawanku pengatur petir menyambarkan petir kencang. Sambaran petir yang membuat mereka kaget. Mobil mahasiswi berleher jenjang menjerit-jerit alarmnya. Selalu begitu jika petir menyambar dengan kencangnya. Seketika ia meraih kunci dan menakan tombol di gantungan kunci. Tapi hatinya gamang. Ia teringat sesuatu. Diakhiri ritual purba bersama mahasiswa berambut kribo itu.

“Maaf, aku harus segera pulang, ibuku sedang sakit di, rumah dia sendirian.”

Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir mahasiswa berambut kribo. Matanya menatap nanar kepergian perempuan yang wanginya telah membuat mabuk.

Gontai aku berjalan menyusuri trotoar yang berlubang disana-sini. Aku beralih dari hiruk pikuk hura-hura manusia posmo menuju pinggiran jalan. Menjumpai orang-orang tak berumah. Menggelandang di sekujur tubuh kota.

Aku masuk bilik kecil penjual kopi yang anaknya terbaring dengan badan demam. Harap-harap cemas dia menunggu tetangganya yang mau mengantar ke rumah sakit. Lama ditunggu tetangga itu tak muncul juga. Kali ini aku minta kawanku yang mengatur hujan untuk sejenak menghentikan hujan. Biar bapak-anak ini bisa berangkat ke rumah sakit. Tak tega aku melihat gigil anak itu.

Benar. Hujan sesaat berhenti. Dengan penuh kasih bapak penjual kopi berlari menggendong anaknya. Mencari becak dan ojek di malam yang kian merapat ke pagi seperti mencari jarum dalam jerami. Kalut. Bapak yang menggendong anaknya terus berlari, berlari.

Aku memutar otak. Apa yang mesti aku lakukan untuk membantu bapak penjual kopi. Dari jauh aku melihat mobil mahasiswi berleher jenjang melintas di jalanan. Aku melambaikan tangan, coba menghentikan mobilnya. Dia acuh. Aku tak dilihatnya. Sial!

Lalu melintas John dan Alin, pemilik café, dengan motor gedenya. Aku hentikan mereka. Namun, menoleh pun mereka tidak. Ah, aku benci tak terlihat! Benci sekali!

Tiba-tiba terbetik satu pemikiran untuk membawa bapak-anak itu ke langit bersamaku. Biar mereka menemu damai di sana. Ragu menggelanyut. Boleh jadi justru damai mereka ada di sini. Bukan di langit sana.

Aku tak peduli, pokoknya aku harus membawanya ke langit. Kota ini hanya menawarkan luka demi luka.

Celaka! Kudengar ayam berkokok bersahutan. Pagi menjelang.
“Tugasmu sudah selesai, wahai penjaga malam. Kembalilah ke langit!” Kata penjaga pagi.
“Tapi aku belum menolong bapak penjual kopi itu, anaknya…,” belum selesai aku berkata tubuhku seperti tersedot suatu pusaran kencang. Ditarik ke langit.

Aku merasa sangat berdosa lantaran tak segera mengambil keputusan. Bodohnya aku. Tak bisa menolong bapak-anak itu. Kemudian, sampai di telingaku, anak yang malang itu meregang nyawa kala fajar menyingsing.

Aku benci tak terlihat. Benci sekali!

Ciputat, Maret-April 2010
:: dimuat Majalah Kalpadruma FSSR UNS, Solo
By : Zakky

Selengkapnya......

Kosong

Saatnya kekosongan melabui di balik jendela rindui kamu yang tak usai.

Selengkapnya......

Entah Semacam Apa

Masih di kamu merajai hati yang tak mengering terus merindu, tak mau di sudahi.

Selengkapnya......

Bakso Sidorejo (Pak Jarno)


Udah lama sekali gak posting kangen juga, tapi postingan kali ini sangat berbeda dari yang biasa, untuk kali ini saya mencoba posting tentang kuliner, sekedar promosi dan iseng saja, tapi nggak apalah di kata promosi emang sejatinya begitu kok ☺.


Bakso "Pak No" Sidorejo ini beralamat di Kp. Sidorejo, Parakan, Temanggung, lebih tepatnya di Jl. Wonosobo (50 M dari pertigaan PDAM Parakan) di sebelah kanan menuju ke Wonosobo dari arah terminal atau pasar Parakan, bagi temen² yang kebetulan lewat boleh kok mampir mencicipi baksonya☺, ngomongin rasa'y saya gak mau komentar sendiri, mendingan di cobain dulu aja deh baru temen² bisa komentar sendiri rasanya seperti apa, cukup dengan Rp. 5.000,- bisa menikmati semankok bakso khas "Pak No". Buruan gee mampir ya.. oke temen² sampe di sini dulu aja yah postingan kali ini, mohon maaf jika tidak berkenan. Salam ngeblog☻.

Selengkapnya......
 
Cebong`s Notez
---- ..../herie. Green World Blogger Template---- © Template Design by Herro